LEMKASPA, Plt Nova Iriansyah Jangan Tutup Mata Terkait PT. EMM

Rabu, 26 September 2018 | 16.32 WIB

Bagikan:
Foto : Samsul Bahri ketua Lemkaspa

DAILYACEH.COM,Banda Aceh | Konflik masyarakat Kabupaten Nagan Raya dengan salah satu Perusahan penambang Emas di Kabupaten setempat terus belanjut. Meskipun masyarakat sudah melakukan beberapa aksi penolakan, namum pihak Pemerintah Aceh sama sekali belum memberikan sinyal terkait konflik tersebut.

Lemkaspa menilai, Pemerintah Aceh dibawah Plt Nova Iriansyah seakan-akan tutup mata terhadap tuntutan masyarakat tersebut. Hal ini diungkapkan langsung oleh Samsul Bahri selaku ketua Lemkaspa, selasa 26/09/2018 di Banda Aceh.

Samsul menjelaskan saat ini pihak PT Emas Mineral Murni ( EMM ) sama sekali tidak merespon terhadap tuntutan masyarakat setempat untuk berhenti melakukan penambangan di Kawasan Ekosistem Lauser.

Mereka datang dari luar, tanpa ada basi basi, langsung melakukan penambangan di Aceh, sampai-sampai Pemerintah Aceh dan Kabupaten tidak dilibatkan dalam proses perizinan, semuanya dikeluarkan oleh pemerintah Pusat.

Dirinya juga sangat menyanyangkan sikap Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah sampai saat ini belum menggubris terhadap tuntutan masyarakat, seakan-akan Pemerintah tutup mata dengan kondisi masyarakat Nagan Raya yang sedang berkonflik dengam pihak perusahan PT. EMM, kata Samsul.

Ia mengungkapkan, semestinya Plt Gubernur Aceh sudah melakukan langkah-langkah dalam upaya untuk menyelesaikan masalah konflik masyarakat Nagan dengan PT EMM.

Lebih lanjut ketua umum Lembaga Kajian Strategis dan Kebijakan Publik juga merasa aneh dengan proses Izin yang dikantongin oleh PT. EMM. Disini Pemerintah Aceh sama sekali tidak mengetahui secara detil terkait perizinan, ni kan aneh.

"Padahal kita Aceh ada regulasi sendiri yang diatur dalam UUPA mengenai perusahan-perusahan asing yang akan melakukan eksplorasi maupun eksploitasi sumberdaya alam.

Samsul juga menambahkan bahwa PT. EMM mendapat izin kelola areal lahan untuk pertambangan seluas 10.000 hektar, Ini merupakan suatu musibah besar bagi Aceh. Khususnya masyarakat setempat disaat terjadi bencana karena mereka yany mengalami dampak secara langsug. Belum lagi terjadinya degradasi lingkungan yang berdampak pada kerusakan kawasan ekosistem yang dilindungi, tutup Samsul Bahri.[]
Bagikan:
KOMENTAR