Azhar : Jika LWN Dibubarkan, Kami Siap Kembali Ke Barak

Kamis, 15 November 2018 | 08.20 WIB

Bagikan:
Foto : Ir Azhar Abdurrahman mantan Bupati Aceh Jaya

DAILYACEH.COM,Calang | Mantan Bupati Aceh Jaya, Ir H Azhar Abdurrahman menegaskan bahwa dua tokoh Aceh, Ghazali Abbas dan pakar hukum Mawardi Ismail telah melukai hati rakyat Aceh karena menyatakan tidak perlunya keberadaan lembaga wali nanggroe.

“Menanggapi komentar Senator Ghazali Abas Adan dan Pakar Hukum Mawardi terkait tidak perlunya Lembaga Wali Nanggroe, kami dari pejuang Aceh menyatakan sikap, kedua tokoh tersebut telah melukai hati rakyat Aceh dan para pejuang karena lembaga merupakan representatif bangsa Aceh,” ungkap Azhar Abdurrahman dalam pernyataan tertulisnya kepada media ini, Kamis (15/11/2018) dini hari.

Menurut Azhar, kehadiran Lembaga Wali Nanggroe merupakan refresentatif Aceh pasca genjatan senjata antata GAM dan RI yang berbuah damai dan kini telah dinikmati oleh rakyat.

Azhar menambahkan, telah banyak hasil perjanjian damai MoU di Helsinki 15 Agustus 2005 yg dijabarkan dalam UUPA, baik pembagian hasil minyak dan gas serta kandungan mineral lainnya yang menjadi penerimaan Aceh.

Selain itu, kata Azhar, referensi damai Aceh telah menjadi model bagi Indonesia dan dunia.

“Kami sebagai pejuang siap kembali ke barak, jika Lembaga Wali Nanggroe diubarkan,”tegas Wakil Ketua DPA Partai Aceh itu.

Azhar menyebutkan, melihat fenomena saat ini para elit dalam memberi komentar tidak lagi menempatkan etika dan santun dalam menghargai baik kepada bangsa dan secara person.

“Jika sosok paduka yang mulia Wali Nanggroe Tgk Malik Mahmud Al Haytar tidak tepat dengan kondisi kesehatan dan waktu masa tugas, itu lazim dapat dibicarakan secara demokratis dan peraturan yang berlaku. Siapa pun dapat diganti jika waktu tiba saat nya, baik pertimbangan kesehatan , atau tutup usia, asal sanggup mengemban amanah dari isi perjanjian pololitik dalam genjatan senjata ini ( MoU Helsinki- red),” ujar mantan kombatan GAM ini.

Agar situasi kondusif, Azhar menyarankan kepada kedua tokoh tersebut meminta maaf kepada publik dan khususnya para pejuang Aceh. “Jika hal ini berlarut, maka akan terjadi gejolak horizontal yang dimaikan dan diremote oleh pihak lain yang dapat menganggu rasa nyaman bagi masyarakat Aceh.Tokoh tokoh yang tendensius dan emosional ini akan menjadi daftar tunggu dan musuh bagi kenyaman Bangsa Aceh,”tandasnya.[]
Bagikan:
KOMENTAR