Ketua SADaR Aceh Kecam Pihak Yang Memanfaatkan Dayah Demi Kepentingan Politik

Jumat, 14 Desember 2018 | 08.59 WIB

Bagikan:

DAILYACEH.COM,Banda Aceh |Dayah sebagai salah satu lembaga pendidikan tertua yang telah melahirkan banyak ulama dan tokoh serta sangat berjasa dalam masyarakat hendaknya patut kita jaga bersama dan jauh dari pihak-pihak yang memanfaatkan dayah dan elemennya terutama ulama dan santri untuk kepentingan kelompok tertentu terlebih di tahun politik ini.

Hal ini sebagaimana diungkapkan Tgk. Marsyuddin Ishak selaku Ketua SADaR Aceh merespon problema adanya pihak yang mencoba memanfaatkan dayah, ulama dan santri di tahun politik dewasa ini.

“Tinta sejarah telah mencatat perjuangan, pengorbanan, pengaruh dan partisipasi kalangan dayah di Aceh sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Mulai dari zaman otokrasi sampai pada zaman demokrasi sekarang ini selalu saja ada kader terbaik dayah baik sebagai ulama maupun santri yang selalu memberikan sumbangsih terbaiknya untuk negeri ini, kami sangat mengharapkan janganlah memanfaatkan dayah dan elemennya ulama dan santri untuk kepentingan kelompok tertentu terutama di tahun politik seperti saat ini, ” tegasnya dalam siaran tertulis kepada media ini, Kamis, (13/12/2018).

Ia menambahkan salah satu realita dewasa ini ulama dan santri Aceh menjadi rebutan para elit politik guna meraup simpati rakyat baik dalam Pilkada, Pileg maupun Pilpres . Mereka bergaya seolah-olah sudah pulahan tahun mondok di dayah, baju koko, kain sarung, surban dan peci menjadi pakaian wajib untuk saat itu bagi mereka.

” Mereka bangga ketika dipeusijuk oleh para teungku, mereka senang ketika para Abu hadir di panggung orasi dan mereka selalu menampakkan seolah-olah hanya merekalah yang akan dan mampu menjaga amanah para ulama,” kesalnya.

Selanjutnya, alumni Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga itu juga menyebutkan, Dayah, santri dan para ulama memiliki cerita yang hampir sama. Tetap dijadikan alat politik oleh para oknum politikus. Mulai dari deklarasi Santri, Konsolidasi Ulama muda, pertemuan ulama karismatik dan aksi “penculikan” beberapa pimpinan dayah ke Jakarta.

“Bahkan yang lebih Celakanya lagi, ada salah satu relawan yang menjual nama ratusan pimpinan Dayah dan ribuan santri kepada kepala Dinas di Aceh. Hal tersebut sangatlah tidak patut untuk dicontoh dan sangat layak untuk dilaknat,” tegas aktivis yang aktif membela hak dayah dan santri itu.

Terakhir tokoh muda kelahiran Pasee itu mempertanyakan sampai kapan kalangan Dayah akan selalu dijadikan alat? Butuh waktu berapa lama lagi kita menunggu kalangan dayah ini untuk sadar.[]
Bagikan:
KOMENTAR