Opini : Politik Buaya Darat

Jumat, 21 Desember 2018 | 17.06 WIB

Bagikan:
Oleh
Irfan Maulana, Mahasiswa Aktif Ilmu Sosial Politik Fisip Unsyiah

Perilaku politik merupakan satu hal yang tidak terpisahkan dari permasalahan kesengsaraan dan kemakmuran masyarakat. selain diartikan sebagai cara untuk mencapai kekuasaan politik juga di sebut sebagai media untuk menuangkan gagasan pribadi atau kelompok ke dalam kebijakan publik, baik gagasan yang bersifat negatif maupun positif. Paradigma tentang politik dalam sistem masyarakat cenderung bersifat negatif, hal ini terjadi karena masyarakat yang sering dikecewakan oleh oknum-oknum politik.

Produk-produk politik yang ditawarkan ke masyarakat biasa nya bersifat persuasif dan kreatif. Oleh karena itu, masyarakat aceh dalam merespon produk-produk politik tersebut harus bersifat kreatif dan persuasif pula. Implikasi dari produk-produk yang bersifat kreatif tersebut mengakibatkan munculnya politik buaya darat. Pengertian dari buaya darat adalah suatu perilaku politik yang mampu memanipulasi masyarakat yang akan merayakan pemilu. Para aktor politik buaya darat ini berperilaku seperti bunglon yang mampu merubah warna tubuhnya sesuai dengan situasi dan tempat dirinya berada.

Jika praktek politik buaya darat digunakan untuk kepentingan umat, tentunya perilaku tersebut sangat dianjurkan, celakanya praktek politik buaya darat tersebut cenderung digunakan untuk memanipulasi masyarakat demi memperoleh kepentingan pribadi atau kelompok yang mempraktekkan politik buaya darat tersebut. Fakta dari hasil produk politik buaya darat dapat dipahami dari tingkat perwujudan visi dan misi yang disampaikan oleh pemain politik buaya darat pada pilkada aceh sebelumnya.

Istilah buaya darat tidak hanya disandarkan atau dilebelkan kepada lelaki hidung belang atau laki-laki yang suka selingkuh. Namun para elit politik pun berpotensi untuk disebut buaya darat. Karena dirinya telah berselingkuh dengan praktek politik yang dapat merugikan masyarakat dan bangsa.

Publik harus yakin bahwa politik berbasis moralitas dapat diwujudkan dalam strategi politik praktis. Hal ini sesuai dengan ajaran islam bahwa umat manusia harus menegakkan konsep yang benar katakan benar yang salah katakan salah. Walaupun situasi dan kondisi lingkungan tidak menginginkan kebenaran itu ditegakkan.
Dengan konsep ini, tidak jarang ditemukan bahwa banyak para ilmuan rela menggantikan nyawanya demi mempertahankan konsep kebenaran di permukaan bumi ini.

Layaknya Aristoteles yang rela mengorbankan nyawanya demi mempertahankan kebenaran yang sedang diintimidasi oleh kekuasaan romawi kuno. Semangat keberanian yang dilakukan oleh Aristoteles juga tidak tertutup kemungkinan akan dilakukan oleh masyarakat aceh dalam mengontrol praktek-praktek politik buaya darat di aceh. Argumentasi ini bukanlah bersifat motivasi, melainkan bukti sosial politik di Aceh.

Sejarah perjuangan masyarakat aceh dalam menghadapi pergerakan politik kolonial belanda dan jepang telah membuktikan bahwa masyarakat aceh telah memiliki komitmen yang kuat untuk menegakkan kebenaran atas permukaan bumi ini baik bersifat keagamaan, buadaya dan politik. Atas dasar inilah aceh disebut sebagai daerah yang tidak pernah dijajah oleh kolonial belanda dan jepang.

Dalam konteks politik aceh dewasa ini, tidak tertutup kemungkinan bahwa aceh dapat dijajah oleh masyarakat atau elit politiknya sendiri.
Masyarakat aceh dewasa ini membutuhkan praktek-praktek politik yang ideal untuk aceh tanpa bertentangan dengan pemerintah pusat. Yakni, mampu meningkatkan kualitas masyarakat dari berbagai sisi, baik sisi ekonomi, pendidikan maupun kesehatan.

Jika berbicara instrumen peningkatan sumber daya manusia (SDM) aceh dianggap sudah memadai dari pada provinsi-provinsi lainnya di indonesia. Instrumen tersebut misalnya, perguruan tinggi, profesor, politisi, ulama, dan mahasiswa serta didukung oleh dana otonomi khusus (Otsus) yang begitu melimpah. Ternyata, berbagai instrumen peningkatan SDM tersebut terkesan hanya menyediakan panggung untuk pemain-pemain politik buaya darat.

Para pemain politik buaya darat semakin bergembira atau senang ketika masyarakatnya tidak percaya dengan adanya konsep ideal dalam membangun politik. Seharusnya masyarakat aceh yang disebut ssebagai masyarakat yang bersyariat, dipastikan kuat keimanan sosialnya. Implikasi politiknya, masyarakat tetap yakin bahwa politik yang ideal tersebut masih ada dan dapat diwujudkan dalam sistem keagamaan, politik dan ekonomi di aceh saat ini.

Rasulullah SAW telah banyak memberikan iktibar atau pelajaran politik bagi umat manusia melalui gerakan-gerakan moral. Tetapi, wacana politik di aceh dewasa ini terkesan elitis, sehingga seolah-olah hanya elit politik dan masyarakat elite saja yang tampil dalam panggung perpolitikan di aceh. Jika direfleksikan dari kepribadian rasulullah SAW, panggung poltik merupakan panggung yang dimainkan oleh semua lapisan masyarakat.kita harus akui bahwa politik ideal akan lahir dari partisipasi masyarakat, karena politik sejatinya bertujuan mewujudkan kemaslahatan umat, bukan kemaslahatan sekelompok umat. Sekianlah tulisan saya semoga dapat membantu kita semua terhindar dari praktek politik buaya darat. Amin ya allah.
Bagikan:
KOMENTAR