Air terjun Ceurache Emboen, Pesona Tersembunyi Di Aceh Jaya

Selasa, 11 Juni 2019 | 17.32 WIB

Bagikan:
Air terjun Ceurache Emboen di Desa Sarah Raya Kecamatan Pasie Raya, Aceh Jaya.(foto/ist)
DAILYACEH.COM,CALANG | Kala sang surya menyinari dedaunan dengan sinar hangatnya di Pagi Senin, 10/6/2019, sekira pukul 06.00 Wib, 9 anggota Komunitas Pegiat Wisata Aceh Jaya berangkat mengunjungi salah satu Desa yang bernama Alue Jang Kecamatan Pasie Raya.

Melewati jalan menelusuri pemukiman warga sekitaran 2 jam menempuh perjalanan menggunakan motor dengan jarak 15 Kilo Meter mulai dari persimpangan Teunon, akhirnya tiba dan dilokasi langsung di sambut oleh salah satu pemuda Desa setempat yaitu khairul yang lebih akrab di sapa dengan sebutan Khairul Ceurache Embon yang sudah menyiapkan bekal untuk sarapan.

Dengan di temani secangkir teh hangat, pria berusia 34 tahun tersebut menceritakan betapa hebatnya keindahan alam Pucoek Krueng Teunom yang masih asli dan berjarang 15 Kilo meter dari pemukiman warga.

"Ada dua hal yang menarik bila mengunjungi pucoek Krueng Teunom yaitu, Krueng Paleng, dimana tebing-tebing tinggi mengelilingi sungai dan pepohonam yang hijau membuat mata siapa pun tidak akan berkedip dan terpana. Selanjutnya, Air terjun Ceurache Emboen ( Embun) dengan ketinggian hampir 80 meter dari permukaan tanah,"tutur Khairul seraya meneguk air teh yang sudah dituangkan kedalam piring.

Lalu, berlahan khairul menceritakan kaitan erat antara Ceurache Embon dengan Krueng Paleng."dua hal ini memiliki keindahan yang berbeda namun saling melengkapi. Jika di ibaratkan, seperti bola mata hitam dan putih, bersatu tapi tidak menyatu,"tuturnya.

Hari mulai menunjukan pukul 08.00 wib dimana penduduk Desa setempat mulai beralu alang melakukan rutinitas keseharian, ada yang menuju kesawah dan ada juga ke kebun dan sesekali terlihat anak-anak sedang dayung sepeda dengan seragam putih merah menuju kesekolahnya tidak jauh dari desa tersebut.

Lalu, khairul kembali menjelaskan keindahan alam tidak akan bisa di nikmati jika tidak mengunjungi dan melihat langsung akan keindahan tersebut "Percuma di ceritakan yang ada hanya penasaran jika tidak menyaksikan secara langsung," tutur Khairul seraya mengajak mengunjungi ke lokasi. dan akhirnya ada sebuah kata sepakat pun keputusan bersama untuk berangkat.

Akhirnya, dengan bayaran 1 Juta, kami pun akhirnya berganti transpotasi. dari semula menggunakan motor kini mengendarain spit boat berwarna putih milik pria paruh baya yaitu Pak Suharta berkapasitas 12 orang yang sudah di persiapkan oleh khairul untuk mengarungi derasnya aliran air sungai Teunom.

Cemas bercampur khawatir datang silih berganti, saat semua sudah berada di boat dan memulia perjalanan menelusuri riak-riak air sugai. Sesekali sang nahkoda dengan lihainya melajukan boatnya dengan kecepatan seperti coki sedang menunggangi kuda saat lomba balapan. terlontar senyum-senyum kecil milik pak Suharta saat memamerkan atraksi meliyuk-liyuknya boat seolah ingin menyapaikan jika itu adalah keahliannya dan bermaksud memberikan sedikit sensasi menarik kepada setiap pengunjung agar membekas dalam ingatan.

Sekira 1 jam sudah lamanya perjalanan, dengan di temani rasa tidak karuan seakan akan ada afek jera tertanam di hati yang mengundang pikiran jika ini yang pertama dan terakhir datang kemari. Lesu dan tegang Secara tiba-tiba berubah seketika. Mata yang semula gemulai layaknya orang belum puas menikmati tidur menjadi enggan berkedip, terpana, seakan tidak percaya, apa yang sedang ada di depan mata.

Siapa sangka, di belantara rimba Aceh Jaya yang indentik dengan sebutan Bumoe Meurehoem Daya tersimpan keindahan yang tidak dapat tersurah dengan kata, terkagum oleh rasa seakan-akan sedang berada di pedalaman Negeri Tirai Bambu

sungai yang di himpit oleh tebing-tebing tinggi yang di hiasi oleh hijaunya pepohonan membuat leher lebih perkasa ketimbang baja yang selalu siap menopang kepala saat berpaling mengikuti instuksi mata menyaksikan betapa takjubnya keindahan alam yang mampu melupuhkan ingatan tentang betapang bisingnya perkotaan.

"inilah tempat yang saya ceritakan tadi sebelum berangkat. kami menyebutnya dengan nama Krueng Paleng (Sungai Berpaling)," tutur khairul sebari menceritakan makna dari nama tempat tersebut di sela - sela kekaguman menikmati keindahan alam di saat itu.

Krueng Paleng, Lanjut Khairul, di ambil dari nama tempat dimana Krung ( Sungai ) di himpit oleh gunung yang mencula tinggi seperti dinding tembok. Sedangkan paleng ( Berbaling ), tambahnya, dimana setiap orang yang berada di areal sungat ini akan secara sendirinya memalingkan kepalanya di saat melihat keindahan alam di sini.

Jam pun kembali menunjukkan pada pukul 9.12 Wib, perjalan terus berlanjut menuju titik yang di sepakati. Rasa kagum tidak dapat di sembunyikan, teman dari komunitas Pegiat Wisata Aceh Jaya pun terdiam, hening. Hanya bisingya suara mesin boat terus berderu riang mengikuti alur yang di ciptakan oleh pak Suharta.

Semuanya tak berkutik, alam Krueng Paleng meneduhkan suasana dari pertamanya tidak karuan menjadi dia, terpesona dan mata terus di manjakan dengan pemandangan. Kadang sesekali ada yang  asik Androinnya mengambil segenab dokumentasi yang mungkin akan mengotori dinding jejaring sosial dengan Scaption dan Hasteg. Ada pula yang usil merekam momentul ini dan juga ada tawa – tawa kecil timbul dari imbas kekagum Krueng Paleng.

Matahari terus berlalu hingga di atas kepala menandakan cacing segera bernyanyi di dalam perut dan akhirnya tibalah di sebuah pantai dimana ada pancuran air di seberangnya. Boat pun berlabuh karena instruksi khairul untuk beristirahat sejenak dan menyantap bekal yang di bawa. Usai menurunkan semua bekal dan memutuskan untuk langsung melahap makan siang, lalu perjalanan pun kembali di lanjutkan dengan berjalan kaki.

Mendaki tebing dengan penuh kehati – hatian di mulai dari bibir sungai setinggi lima meter dari permukaan sungai di temani gemuruh air yang meredupkan kicauan burung, akhirnya nampak dari kejauhan air yang mengalir deras di bebatuan dengan ketinggian 20 meter.

Pesembahan Air Terjun Ceurache Embon menggiyurkan hati, meleyapkan emosi dan menentramkan jiwa. Lelah terbayar lunas tak terasa seluruh yang datang langsung memanjakan tubuh dengan percikan air yang berterbangan seakan sedang berada di kutub utara di temani butiran salju di musim dingin.

“makna dari nama Air Terjun Ceurache Embon di artikan sebagai berikut, air terjun adalah Air yang Jatuh dari ketinggian. Ceurache adalah bahasa aceh dengan arti air yang mengalir deras di atas batu sedangkan Embon ( Embun ) di ambil dari percikan air yang berterbangan di sekitar lokasi ” Jelas Khairu

Maka, lanjutnya, jika di gabungkan makna di balik nama Lokasi ini adalah Air yang jatuh dan mengalir deras hingga menghasilkan percikan air yang berterbangan seperti embun.

Menyimak dan mendengar sekilas penjelasan khairul membuat penasaran makin memuncak hingga, kami pun memutuskan segera mengakhirnya dengan membasakan tubuh dengan air yang luar biasa dingin hingga jam menunjukan pukul 16.00 wib dan kami pun memutuskan pulang. (mz)
Bagikan:
KOMENTAR